Oleh Yulhasni
Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Dengan format 48 negara dan 104 pertandingan, jalan menuju gelar juara menjadi lebih panjang, lebih melelahkan, dan lebih sulit diprediksi. Turnamen ini tidak hanya menguji kualitas sebelas pemain utama, tetapi juga kedalaman skuad, kestabilan emosi, kemampuan rotasi, serta kecerdasan pelatih dalam membaca lawan dari fase grup hingga babak gugur. FIFA juga menempatkan edisi 2026 sebagai Piala Dunia terbesar sejauh ini, dengan Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama.
Jika melihat peta kekuatan menjelang turnamen, Portugal layak masuk sebagai salah satu kandidat paling serius. Secara komposisi skuad, Portugal terlihat sangat lengkap. Mereka memiliki penjaga gawang modern, bek-bek kuat, gelandang kreatif, pemain sayap eksplosif, dan penyerang berpengalaman. Nama Cristiano Ronaldo tetap menjadi sorotan karena tampil di Piala Dunia keenamnya, tetapi kekuatan Portugal tidak lagi hanya bertumpu pada satu figur. Di sekitar Ronaldo ada pemain-pemain seperti Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Vitinha, João Neves, Rafael Leão, João Cancelo, dan Rúben Dias yang memberi keseimbangan antara teknik, pengalaman, dan intensitas permainan. FIFA juga mencatat Ronaldo kembali masuk skuad Portugal untuk Piala Dunia 2026 di bawah Roberto Martínez.
Kekuatan utama Portugal adalah kedalaman. Mereka tidak hanya punya satu cara bermain. Ketika membutuhkan penguasaan bola, Portugal memiliki gelandang yang mampu menjaga ritme. Ketika membutuhkan serangan cepat, mereka punya pemain sayap dengan kecepatan dan kemampuan satu lawan satu. Ketika laga berjalan ketat, mereka masih memiliki pemain berpengalaman yang terbiasa menghadapi tekanan besar. Inilah alasan Portugal sering dianggap sebagai skuad paling komplet. Namun, kelengkapan skuad belum otomatis menjadi jaminan juara. Tantangan Portugal ada pada penyatuan peran. Dengan banyak pemain berkualitas, pelatih harus memastikan tidak ada tumpang tindih fungsi, terutama dalam distribusi bola, ruang gerak pemain kreatif, dan posisi Ronaldo di lini depan.
Di sisi lain, Spanyol menawarkan kekuatan yang berbeda. Jika Portugal unggul dalam kelengkapan individu, Spanyol lebih menonjol sebagai tim yang memiliki struktur permainan jelas. Spanyol bukan hanya kumpulan pemain bagus, melainkan tim dengan identitas kuat: penguasaan bola, pergerakan antarlini, pressing setelah kehilangan bola, dan keberanian memainkan pemain muda. Satu hal yang membuat Spanyol menarik adalah keberadaan blok pemain Barcelona dalam skuad. Data klub menunjukkan ada delapan pemain Barcelona yang dipanggil ke skuad Spanyol, termasuk Lamine Yamal, Pedri, Pau Cubarsí, Ferran Torres, Dani Olmo, Gavi, Eric Garcia, dan Joan Garcia. Jadi, meskipun bukan mayoritas mutlak dari 26 pemain, jumlah itu cukup besar untuk membentuk kesinambungan gaya bermain.
Faktor chemistry inilah yang membuat Spanyol layak dianggap sebagai kandidat juara. Dalam turnamen singkat seperti Piala Dunia, waktu persiapan sangat terbatas. Tim yang sudah memiliki hubungan permainan di level klub sering lebih cepat menyatu. Pemain yang terbiasa berlatih dan bertanding bersama biasanya lebih paham kapan harus membuka ruang, kapan melakukan pressing, dan kapan mempercepat tempo. Spanyol punya modal itu. Kehadiran pemain muda seperti Lamine Yamal memberi daya ledak, sementara Pedri dan Gavi menjadi simbol generasi baru yang bisa menjaga identitas permainan Spanyol. Jika mereka mampu menjaga konsistensi dan tidak kehilangan efektivitas di kotak penalti, Spanyol bisa menjadi tim yang paling sulit dikalahkan.
Brazil tetap tidak boleh dicoret dari daftar calon juara. Negara ini memiliki tradisi, bakat alami, dan tekanan sejarah yang berbeda dibandingkan tim lain. Brazil selalu datang ke Piala Dunia dengan ekspektasi tinggi, terlebih karena mereka masih menjadi negara dengan koleksi gelar Piala Dunia terbanyak. Pada edisi 2026, Brazil memiliki pemain-pemain menyerang kelas dunia seperti Neymar, Vinícius Júnior, Raphinha, dan Endrick. FIFA mencatat Carlo Ancelotti telah mengumumkan skuad Brazil untuk Piala Dunia 2026, dengan Neymar kembali masuk dalam daftar.
Namun, justru di situlah letak kerawanan Brazil. Banyaknya pemain bintang bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa berubah menjadi masalah jika ego individu lebih menonjol daripada kepentingan tim. Brazil akan berbahaya jika setiap pemain menerima perannya dengan jelas. Vinícius harus diberi ruang untuk menjadi ancaman utama dari sisi sayap. Neymar, jika fit dan dimainkan, perlu ditempatkan sebagai penghubung permainan, bukan pusat semua serangan. Raphinha dan Endrick dapat memberi variasi, tetapi mereka juga harus disiplin dalam transisi bertahan. Dengan Ancelotti, Brazil memiliki pelatih yang terbiasa mengelola ruang ganti penuh bintang. Jika Ancelotti berhasil menata ego menjadi energi kolektif, Brazil bisa kembali menjadi kekuatan yang menakutkan. Jika tidak, mereka rawan tersandung oleh tim yang lebih rapi secara taktik.
Argentina datang dengan status berbeda: juara bertahan. Mereka bukan sekadar tim kuat, tetapi tim yang sudah membuktikan diri di panggung terbesar. Lionel Messi kembali memimpin Argentina di Piala Dunia keenamnya, dan Reuters melaporkan bahwa skuad Argentina 2026 masih mempertahankan 17 pemain dari tim juara 2022, termasuk Emiliano Martínez, Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, Enzo Fernández, dan Lautaro Martínez.
Argentina akan tetap berbahaya selama Messi berada di lapangan. Meski usia tidak lagi muda, pengaruh Messi bukan hanya soal gol atau assist, melainkan cara ia mengatur tempo, menarik perhatian lawan, dan memberi rasa percaya diri kepada rekan setimnya. Namun, ketergantungan kepada Messi juga menjadi risiko. Jika Argentina terlalu sering menunggu inspirasi dari satu pemain, lawan bisa menyiapkan blok pertahanan khusus untuk memutus koneksi Messi dengan lini tengah dan lini depan. Kunci Argentina ada pada keseimbangan antara penghormatan kepada Messi dan keberanian generasi lain untuk mengambil tanggung jawab. Lautaro, Julián Álvarez, Mac Allister, dan Enzo Fernández harus menjadi penopang aktif, bukan hanya pelengkap. Jika keseimbangan itu terjaga, Argentina masih sangat layak bermimpi mempertahankan gelar.
Dari Asia, Jepang menjadi tim yang paling pantas diperhatikan. Jepang bukan lagi sekadar tim disiplin yang berharap mencuri kemenangan. Mereka telah berkembang menjadi tim modern dengan organisasi rapi, transisi cepat, dan pemain-pemain yang tersebar di liga kompetitif Eropa. FIFA mencatat Hajime Moriyasu telah memilih skuad Jepang untuk Piala Dunia 2026, meski Kaoru Mitoma harus absen karena cedera. Absennya Mitoma tentu menjadi kerugian, tetapi Jepang tetap memiliki kedalaman kolektif yang kuat. Mereka mungkin belum menjadi favorit utama untuk juara, tetapi Jepang berpotensi menjadi tim yang merusak prediksi besar. Dalam format baru yang lebih panjang, tim seperti Jepang bisa sangat berbahaya karena mereka bermain dengan disiplin, sabar, dan jarang panik.
Dari Afrika, dua nama yang patut diberi perhatian adalah Senegal dan Maroko. Senegal punya kekuatan fisik, kecepatan, dan pengalaman pemain besar seperti Sadio Mané. Meski sempat kalah 2-3 dari Amerika Serikat dalam laga pemanasan, pertandingan itu tetap menunjukkan bahwa Senegal memiliki kemampuan menyerang dan mental untuk merespons tekanan. Reuters mencatat Mané mencetak gol dan ikut membawa Senegal menyamakan kedudukan sebelum akhirnya kalah tipis.
Maroko juga tidak bisa diabaikan. Mereka sudah membuktikan diri sebagai semifinalis Piala Dunia 2022, dan mental itu penting dalam turnamen besar. Reuters melaporkan bahwa skuad Maroko 2026 tetap memuat nama-nama berpengalaman seperti Achraf Hakimi, Sofyan Amrabat, Noussair Mazraoui, dan Nayef Aguerd, meski Youssef En-Nesyri tidak masuk dalam daftar. Maroko memiliki ciri permainan yang cocok untuk turnamen: organisasi pertahanan kuat, transisi cepat, dan keberanian menghadapi tim besar. Mereka mungkin bukan favorit utama, tetapi mereka memiliki modal untuk kembali membuat kejutan.
Jerman, seperti biasa, harus tetap dihitung. Sejarah Jerman di Piala Dunia terlalu besar untuk diabaikan. Mereka mungkin sempat mengalami masa tidak stabil pada beberapa turnamen terakhir, tetapi generasi baru mereka memiliki kualitas tinggi. Nama seperti Jamal Musiala dan Florian Wirtz memberi kreativitas, sementara struktur sepak bola Jerman selalu mampu melahirkan tim yang kompetitif ketika turnamen besar dimulai. Laporan terbaru juga menyebut Jerman datang dengan skuad yang dipimpin Julian Nagelsmann, dengan kombinasi pemain muda berbakat dan pemain berpengalaman seperti Joshua Kimmich serta Manuel Neuer.
Pada akhirnya, peluang juara Piala Dunia 2026 tidak hanya ditentukan oleh nama besar. Portugal mungkin memiliki skuad paling lengkap. Spanyol mungkin memiliki chemistry paling menjanjikan. Brazil memiliki ledakan bakat yang bisa menghancurkan lawan mana pun. Argentina memiliki Messi, pengalaman juara, dan mental turnamen. Jepang, Senegal, dan Maroko membawa potensi kejutan dari Asia dan Afrika. Jerman membawa sejarah, sistem, dan kemampuan bangkit.
Jika harus memilih tim yang paling ideal antara kualitas skuad dan bentuk permainan, Spanyol terlihat sangat layak ditempatkan di barisan terdepan. Namun, jika ukurannya adalah kedalaman pemain dari belakang sampai depan, Portugal bisa menjadi kandidat paling komplet. Brazil dan Argentina tetap berada dalam lingkaran elite karena mereka punya pemain yang bisa mengubah pertandingan dalam satu momen. Sementara itu, Jepang, Senegal, Maroko, dan Jerman adalah pengingat bahwa Piala Dunia tidak pernah dimenangkan hanya oleh tim yang paling banyak dibicarakan, tetapi oleh tim yang paling siap bertahan dalam tekanan, menjaga konsistensi, dan tampil matang ketika pertandingan memasuki fase hidup-mati.
Kemenangan 3-0 atas Myanmar memang menjadi catatan penting untuk membuka turnamen, namun lebih dari sekadar…
Piala AFF U-19 2026 dipastikan menjadi salah satu perhelatan sepak bola internasional terbesar yang pernah…
Catatan YulhasniKetika 2026 FIFA World Cup digelar nanti, dunia kemungkinan belum benar-benar pulih dari berbagai…
Perjalanan Timnas Indonesia U-17 di ajang AFF U-17 Championship 2026 yang berlangsung di Jawa Timur…
UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa, sedang menganalisis komentar pemain Barcelona tersebut tentang "pertandingan yang…
Kemenangan meyakinkan berhasil diraih Timnas Indonesia saat menghadapi Saint Kitts dan Nevis dalam rangkaian FIFA…
View Comments
https://shorturl.fm/rpDDy